PELAKSANAAN SPMB PEKANBARU : TIDAK ADA PENINGKATAN PELAYANAN?

09.53 / Diposting oleh Irfan / komentar (4)

Hari ini (Jumat, 22 Juni 2007) penjualan formulir SPMB memasuki hari ke-4.
Sampai hari ke-3 kemarin, masih terlihat betapa membludaknya peminat ajang tahunan ini. Calon peserta tampak berdesakan di depan loket penjualan formulir. Antrian berlapis begitu panjang.

Ada rasa iba melihat wajah2 yang kelihatan letih, bersimbah keringat di bawah terik matahari. Tenda yang demikian kecil tentu tak mampu memayungi mereka semuanya.


Saya teringat akan obrolan dengan panitia lokal dari daerah lain.
Mereka memanfaatkan jasa kepala sekolah untuk menjualkan formulir pendaftaran.
Tentu saja ada insentif atas setiap lembar formulir yang laku terjual.

Sangat kreatif. Mengapa?
Pertama; formulir akan semakin banyak yang laku. Kepala Sekolah (atau utusan sekolah) justru akan mempromosikan kepada para siswa agar mengikuti SPMB. Dengan demikian para siswa yang sadar bahwa kemampuan akademiknya rendah dan tidak akan mungkin memenangkan pertarungan di SPMB boleh jadi tetap semangat mngikuti SPMB karena mendapat dorongan dari pihak sekolah.

Kedua; efektif. Bukankah sasaran utama penjualan formulir adalah para alumni skolah yang bersangkutan? Mereka yang baru saja lulus tentu akan sangat senang jika diberi kemudahan membeli formulir di sekolah masing-masing. Dengan demikian pekerjaan panitia lokal akan semakin ringan.

Bagaimana dengan resiko?

Resiko relatif kecil karena sebelum di distribusi ke sekolah2 formulir2 tersebut telah diacak.

SPMB telah berjalan sekian lama. Berganti formasi berkali2.
Banyak diantara personel panitia memiliki pengalaman yang demikian panjang.
Mengapa kita tidak meluaskan pandangan dengan pergi ke propinsi tetangga atau malah ke pulau tetangga, untuk menyaksikan dan mempelajari hal2 positif dari pelaksanaan SPMB di tempat mereka. Kemudian hal2 positif itu kita terapkan pada pelaksanaan SPMB di Universitas Riau yang kita cintai ini.

Seorang teman sesama pegawai memberi saran betapa alangkah baiknya bila calon peserta yang antri di depan loket di beri nomor antri. Wow.. saran yang brilian. Sungguh seandainya para kepala sekolah melihat betapa mantan anak didiknya harus berdiri berjam-jam demi mendapatkan selembar formulir tentu hati mereka akan terenyuh.

Anda terlibat dalam penyelenggaraan SPMB?
Tetapkan dalam hati untuk melakukan yang terbaik.
Tingkatkan pelayanan dari tahun sebelumnya agar Pelaksanaan SPMB semakin berkualitas dan akan menghasilkan calon mahasiswa baru yang semakin berkualitas pula.

Label:

Gratifikasi

03.14 / Diposting oleh Irfan / komentar (1)

Pernahkah Anda menghadapi birokrasi yang harus memakai uang agar urusan Anda menjadi lancar? Kejadian seperti ini bukan hal yang aneh di negeri tercinta kita. Kemudian kita pun mendongkol dalam hati, "Bukankah mereka digaji untuk melaksanakan tugasnya? Lalu, mengapa masih minta uang rokok segala?

Uang pelicin, uang rokok, uang terima kasih, dan masih banyak istilah lain yang maknanya hampir sama. Apakah dibenarkan?


Kita pasti sangat tidak setuju bila petugas yang kita hadapi meminta sejumlah uang demi kelancaran urusan kita. Mungkin anda pernah mendengar SUMUT = Semua Urusan Melalui/Mesti Uang Tunai. Tentu saja itu bukan hanya gambaran Propinsi Sumatera Utara saja, akan tetapi juga berlaku di seluruh Indonesia.
Oke, kita sepakat bahwa petugas yang meminta bayaran untuk menyelesaikan sesuatu yang memang menjadi tugasnya adalah suatu kesalahan.
Bagaimana jika ternyata sang petugas tidak meminta imbalan, akan tetapi kita sangat ingin menunjukkan rasa terima kasih kita karena merasa sangat terbantu?

Hal ini lazim, karena sebagai negara timur kita sangat peka akan hal demikian. Kita merasa bahwa ungkapan terima kasih alangkah sangat baiknya bila bisa diwujudkan melalui pemberian sesuatu.

Ternyata oleh KPK ungkapan terima kasih seperti itu juga tidak dibenarkan. Ini digolongkan kepada Gratifikasi.

Ada baiknya saya mencantumkan apa yang diungkapkan KPK mengenai Gratifikasi:
Pengertian Gratifikasi menurut penjelasan Pasal 12B UU No. 20 Tahun 2001

  • Pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (discount), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya.
  • Gratifikasi tersebut baik yang diterima di dalam negeri maupun di luar negeri dan yang dilakukan dengan menggunakan sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik.

Pengecualian
Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 Pasal 12 C ayat (1) :
  • Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12B ayat (1) tidak berlaku, jika penerima melaporkan gratifikasi yang diterimanya kepada Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Suap (bribery) – Ps.5 UU 31/99 jo UU 20/01
  • Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada Pegawai Negeri / Penyelenggara Negara dengan maksud supaya ybs berbuat/tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya. (Berlaku untuk yg memberi dan yg diberi) – Diadopsi dari pasal 209 KUHP.
  • Ancaman pidana min 1 tahun maks 5 tahun dan atau denda min Rp 50 jt maks Rp 250 jt.


Nah....


Sering kita berada menghadapi Gratifikasi. Akan tetapi kita tidak menyadari bahwa itu termasuk Gratifikasi.

Misalkan saja tugas pokok kita mengetik surat pengantar.
Secara tidak sadar kita selalu memberi prioritas terhadap klien yang memberi uang (baik sebelum maupun sesudah pekerjaan selesai).
Prioritas tersebut mencakup menunda surat pengantar klien lain yang lebih dulu mengajukan permohonan, memberi perhatian lebih dengan mengerjakan bersungguh-sungguh dibandingkan milik klien lain, bahkan menyangkut sikap lebih menghormati dan menghargai klien bersangkutan dibandingkan klien lain yang tidak memberikan uang.

Apabila kita diberi sesuatu oleh seseorang yang selanjutnya mempengaruhi pengambilan keputusan kita baik langsung maupun tidak langsung, maka yakinlah bahwa itu adalah Gratifikasi.

Semoga kita semua mampu menghindarinya.
Tidak saja sebagai penerima, tapi juga sebagai pemberi.



Label:

Tips Anak Kost: Menghindari Menyetrika

02.34 / Diposting oleh Irfan / komentar (2)

Menyetrika baju sebenarnya termasuk pekerjaan yang ringan. Apalagi saat ini berbagai macam bentuk setrika listrik tersedia hingga makin mempermudah pekerjaan tersebut, setidaknya bila dibandingkan dengan setrika zaman dulu dimana kita harus membakar arang terlebih dahulu. Betapa repotnya, disamping tangan selalu belepotan arang, juga harus mewaspadai percikan bara yang selalu mengancam baju yang sedang disetrika.

Tapi banyak yang menganggap menyetrika baju merupakan kegiatan yang menyebalkan.
Meski tidak terlalu banyak menguras tenaga, tapi kegiatan yang satu ini cukup menguras keringat dikarenakan panas yang keluar dari setrika itu sendiri. Belum lagi konsentrasi yang harus penuh dicurahkan agar pakaian dapat rapi sesuai dengan yang dikehendaki.

Bagi yang pengen mendapatkan tips menyetrika, silahkan membaca postingan Mbak Ndew (klik). Pada arsip bulan Oktober 2006 tersebut cari judul Menyetrika.

Nah bagi yang malas menyetrika boleh deh menghindari pekerjaan membosankan tersebut dengan tips sederhana berikut:
Setelah pakaian dicuci dan dibilas, segera jemur pakaian tersebut dengan memakai hanger (gantungan baju). Ingat, jangan diperas. Cara ini memang membuat pakaian lebih lama kering dibandingkan menjemur pakaian yang telah diperas.
Rapikan bagian yang terlihat kusut dengan menggunakan telapak tangan.


Simpan pakaian yang telah kering dalam lemari pakaian yang memiliki tempat untuk menggantungkan hanger.

Kalo lemari kamu biasa aja, atau malah nggak punya lemari baju, lipat baju yang telah kering tersebut dengan rapi (layaknya lipatan toko/baju baru), kemudian letakkan di bagian paling bawah pada tumpukan baju lain. Tumpukan baju lain tersebut menjadi pemberat agar menimbulkan kesan bekas setrika pada baju yang kamu inginkan.
Kalo baju kamu kurang banyak sebagai pemberat, tambahkan aja beberapa diktat diatasnya. He he he.

Biasanya bekas lipatan akan terbentuk seolah-olah merupakan hasil setrikaan. Nggak terlalu rapi sih. Tapi juga nggak begitu malu-maluin untuk dipake kuliah.


Label:

Pegawai pekan ini : Rahmayuni AR

22.23 / Diposting oleh Irfan / komentar (0)

Yuni, demikian biasa ia dipanggil. Dara kelahiran Pekanbaru 12 Juni 1982 ini mulai mengabdi di Universitas Riau sejak tahun 2004 pada Bagian Keuangan Subbagian Dana Masyarakat.

Untuk urusan pengabdian, pegawai yang satu ini patut juga diacungi jempol. Setidaknya pada saat pembayaran SPP dimana saat tersebut merupakan puncak volume pekerjaan Subbagian Dana Masyarakat, Yuni yang bertugas entry data rela pulang hingga menjelang tengah malam.

Bakatnya olahraganya oke juga. Cabang olahraga yang sangat dikuasainya Volley Ball dan Tenis Meja. Meski cukup tangguh pada dua cabang olahraga tersebut, Yuni tidak suka menonjolkan keahliannya dengan mengikuti kejuaraan. Mungkin karena gadis cantik yang masih jomblo ini pada dasarnya seorang pemalu.

Ingin mengenal dara pemalu ini lebih jauh?
Kunjungi aja blog miliknya rahmayuni.blogspot.com




Label:

Indonesia Menanam

01.09 / Diposting oleh Irfan / komentar (3)

Pagi tadi (11 Mei 2007) tepat pukul 9 WIB rombongan Menteri Kehutanan RI Bapak MS Kaban tiba di tempat yang telah dipersiapkan oleh Panitia.
"Indonesia Menanam", demikian bunyi spanduk yang terpampang.



Acara ini merupakan kerjasama pihak Universitas Riau dengan Pemerintah Kota Pekanbaru sebagai bagian untuk mewujudkan Pekanbaru sebagai Kota Hijau (Green City).
Dalam kegiatan ini ditanam sebanyak 800 batang pohon, juga penyerahan dokumen lahan yang akan dihijaukan.

Ulasan Bapak Menteri cukup menarik. Betapa hutan kita telah luluh lantak oleh illegal logging, pembakaran lahan yang menimbulkan asap sampai ke negeri jiran, bencana banjir, dll.
So, kalo kita semua tidak peduli akan lingkungan, bagaimana nantinya nasib anak cucu kita?



Pelaksanaan acara cukup sukses. Namun ada juga yang nyelutuk, "lahan UNRI kebanyakan memang masih hutan. Terus buat apalagi menanam?"

Ah, udahlah. Yang paling penting kan kita ikut peduli.
Karenanya kita berharap bahwa kegiatan ini juga akan ditiru oleh institusi lain.

Lebih penting dari itu tentu saja memelihara apa yang telah ditanam.
Tanpa pemeliharaan, maka semua kerja dan dana yang dikeluarkan akan sia-sia belaka.

Label:

Bursa Buku Murah

00.44 / Diposting oleh Irfan / komentar (1)

Kegiatan yang ditaja oleh Penerbit Elex Media Komputindo ini cuma berlangsung selama 3 hari dimulai sejak hari Senin hingga Rabu (7 s/d 9 Mei 2007).

Bertempat di Gedung Perpustakaan Universitas Riau, Bursa Buku Murah ini cukup banyak menyedot pengunjung. Meski buku dan majalah yang ditawarkan bukan buku yang baru terbit, tapi banyak juga peminatnya. Terutama komik. Tau sendiri kan, begitu banyak komik terbitan Elex Media Komputindo. Dan lagi komik gak terlalu basi buat dibaca.



Untuk komik, dongeng, buku resep masakan, dijual seharga Rp. 10.000,- / 4 pc. Lumayan murah kan? Daripada beli komik bekas yang udah lusuh, mending beli di Bursa Buku Murah ini.

Majalah CHIP dijual seharga Rp. 10.000,-/pc. Sedangkan untuk buku-buku lainnya dijual seharga Rp. 10.000,- / 2 pc.

Saya ikutan beli buku2 seperti dibawah ini. Keluarin uang Rp. 10.000,- dapet 2 buku.
Lumayan...






Label:

Warnet Baru: SPEED.net

01.38 / Diposting oleh Irfan / komentar (0)

Ada warnet baru nih, di Bina Widya. SPEED.net. Letaknya di sebelah Rental Panam Computer.

Kalo warnet yang ini, saya rekomendasi deh. Akses cukup cepat.
Dapat dipastikan yang paling cepat dibanding warnet lain di Bina Widya.

Semoga aja tetap mengutamakan kepuasan pelanggan.
Dan semoga juga tidak melayani LAN Games atau Online Games seperti kebanyakan warnet lain di Bina Widya. Selain bising juga bikin lambat. Sebab games yang terlalu banyak dibagi-bagi (sharing) ke semua komputer.

Label: